Kamis, 19 November 2015

Gagal Jadi Duta

Apa yang terpikirkan jika mendengar kata duta? Atau apa sih duta itu? Di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia ) menyatakan bahwa kata duta di kutip dari bahasa sangsekerta yang berarti perwakilan, utusan dalam suatu urusan/kepentingan.

Berarti gue peribadi mengambil kesimpula, apa itu Duta HIV/AIDS ? yaitu seseorang yang dipiih untuk menjadi perwakilan atau utusan yang diserahi tugas untuk mensosialisasi informasi serta penyuluhan tentang HIV/AIDS.
Tepat tanggal 30-31 Oktober 2015, diadakan seleksi Duta HIV/AIDS Prov. Bengkulu, dan you know what, guess I got challenging and apply for HIV/AIDS Ambassador of Bengkulu Province.

Kenapa harus Duta? Dan Kenapa harus Duta HIV/AIDS?
Gue sebenarnya ga punya experience dalam ikut pemilihan duta,  dengan didaftarkan diri gue menjadi peserta oleh temen dan modal nekat , serta ditambah sedikit percaya diri, sehingga, terdaftar lah nama gue disalah satu peserta seleksi tersebut. Sebenarnya manfaat ikut seleksi suatu program adalah mencari social network, dan new experience. Yaps, 2 hal itu walau ga dirasakan hari ini, pasti akan berguna untuk masa depan.
Seleksiya nya apa saja?

Disini gue bebragi pengalaman buat teman-teman yang ikut seleksi HIV/AIDS Prov.Bengkulu,
Seleksinya singkat tapi padat, jadi sebelum kita daftar, 
kita perlu registrasi ulang (pada umumnya) dan membawa form atau persyaratan yang harus dilengkapi, seperti curriculum vitae (CV), Pas foto full body dan close up, copyan sertifikat-sertifikat (opsioal), tapi gue saranin, makin banyak sertifikat tentulah penilaiannya akan berbeda dengan participant  yang tidak punya sertifikat sama sekali.

Seleksinya di Graha Aula Bungkarno, Jalan Soekarno hatta, Anggut Atas, Kota Bengkulu, dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, Lama ya? Sebenarnya seleksinya ga lama, yang lama itu nunggu giliran seleksinya, karena per-participant memerlukan waktu 20 menit – 30 menit, bayangkan jika yang seleksi lebih dari 80 orang bahkan lebih,.

Setelah giliran, atau nomor participant gue dipanggil yaitu no 46, akhirnya gue masuk aula, dan didalamnya ada 5 stand/meja interviewer dengan materi yang berbeda-beda, dan 1 interviewer didalam ruangan karena persentasi atau unjuk bakat dan wawasan budaya.

Kisi-kisi dan tips yang bisa gue bagikan adalah 
  • be your self
  • jawab apa adaya, bukan ada apanya, tidak perlu mempeajari detail tentang HIV/Aids, karena tidak begitu diperlukan, paling secara general, 
  • berpenampilan terbaik, karena prinsip gue good looking is my priority (karena orang menilai seseorang bukan dari  dalam baru keluar, tapi dari luar ke dalam),
  • lebih banyak mendengar dari pada menjawab,
  • berilah jawaban yang tegas dan jangan ambigu,  
  • dan jangan lupa prepare bawa parfum, hahaha (yang terakhir optional sih, soalnya kalo gue, orangnya sering berkeringat)., 
  • and the last, jangan lupa nampilkan unjuk bakat minimal 2 kesenian


Tepat jam 00.00 dihari itu pula, pengumuman pun keluar, lewat social media, dan Alhamdulillah gue masuk finalis dan itu menunjukan bahwa gue harus dikarantina selama 4 hari, yaitu terhitung dari hari minggu- rabu.

Nama gue diurutan nomor 11

Antara rasa senang, marah, bingung pun bercampur aduk. 
Senang karena lolos masuk daftar finalis dan langkah menuju grand final sudah dekat, marah karena waktu karantina bentrok dengan waktu  UTS di kampus, ga nanggung-nanggung 4 mata kuliah UTS yang akan bentrok di waktu karantina, dan bingung gue harus miih yang  mana? Gue tipe orang yang fokus pada satu hal, karena time-management gue masih berantakan, gue pengen total, dengan hasil yang baik pula.

Setelah,menimbang dan memfikirkan 2-3 kali, akhirnya pilihan gue, mengundurkan diri dari seleksi pemilihan duta HIV/Aids Prov Bengkulu menuju grand final. Karena alasannya simple, kuliah adalah kewajiban gue dan pendidikan adalah prioritas gue.


Sedih, tapi itu namanya pilihan, harus memilih dan mengorbankan pilihan lainnya. Sebenarnya bisa sih, menjalankan kedua-duanya, Asalkan,bisa mengatur time manangement sebaik mungkin. 

tampak 1 finalist baris atas tidak menggunakan batik, pengganti gue
di Finalis Duta HIV/Aids 2015

1 komentar: